Berburu Lumba lumba di Teluk Kiluan

 

“Ayo kita ke Kiluan yuk!” Ujar saya di twitter dengan menyebut beberapa teman saya. Beberapa orang pun menyambar, dan akhirnya trip ke Kiluan direncanakan. Setelah melihat beberapa opsi, akhirnya kita memutuskan kita ke Kiluan sekitar minggu pertama April dan menggunakan jasa tour. Saya bersemangat, karena Kiluan adalah salah satu tempat yang sangat saya kunjungi. 

Kita (  @wennythok, @memethmeong, @silvafauziah, @ipimaripi, @inihilda, @izazaberry, dan luluk) kumpul di Plasa Semanggi pukul 21.00 lalu berangkat ke Kiluan menggunakan ELF. Perjalanan ETA sekitar 9 jam. Kita sampai di pelabuhan Merak sekitar pukul 24.00 dan tiba di Bakaheuni sekitar 2 jam. Lalu dilanjutkan perjalanan darat ke Kiluan, tapi mampir di pasar (saya lupa nama pasarnya ) untuk sarapan dan jemput @aralle yang memang lagi pulang kampung. Dari sana kita melanjutkan perjalanan ke pantai Clara, sayang ketika itu pantai tersebut abis pasang, sehingga sampah yang di darat terbawa kelaut. Membuat lautnya terlihat sedikit kotor. Dari pantai Clara, kita melanjutkan perjalanan melewati markas TNI AL, kemudian memasuki jalan berbukit, dan kurang bagus. 

 

Tiba di teluk Kiluan lebih awal dari yang dijadwalkan, kita sampai sekitar jam 9 / 10. Desa Kiluan sendiri desa yang kecil, berpenduduk saya duga berpenduduk kurang dari seribu karena ketika saya sampai, saya hanya bisa melihat beberapa rumah di sana. Kami tinggal di Guesthouse di seberang pulau Kelapa. Untuk menuju ke sana kami masih harus menyebrang menggunakan perahu kecil yang hanya muat sekitar 4 – 5 orang. Jangan berharap ada listrik di sana, listrik hanya ada ketika malam hari menggunakan genset. 

Tujuan sebagian besar orang adalah Hunting Lumba Lumba, biasanya lumba lumba nya ada ketika pagi. Kami berangkat ke spot sightseeing lumba lumba sekitar jam 6.45 menggunakan perahu kecil. Saya sempat khawatir setelah 45 menit ke tengah laut, apa masih mungkin liat lumba lumba. Tapi kekhawatiran saya salah. Ketika berada di tengah laut lepas, orang yang mengemudikan kapal saya teriak : “Itu lumba lumbanya!!”. Saya kemudian melihat beberapa ekor lumba lumba mulai berenang dekat kapal. Beberapa malah sengaja muncul di depan kapal yang kami tumpangi sembari meloncat. Saya senang, sekaligus kecewa. Senang karena bisa liat lumba lumba, kecewa karena saya gak bawa kamera ( waktu itu gerimis, dan saya khawatir dengan kamera saya kecipratan air laut ). Dan sightseeing itu hanya berlangsung sekitar sejam, karena si kapten kapal saya takut berhadapan dengan angin yang turun dari darat ke laut. Angin tersebut bisa menyusahkan kita yang akan merapat ke pantai. 

Setibanya di pantai, kita langsung packing dan beranjak pulang ke Ibukota, perjalananya 11-12 dengan berangkat. Teman saya pernah berkata, cara menikmati dan mencintai hewan bukanlah dipiara, tapi melihat langsung di alamnya. Saya akhirnya paham hal itu. 

 

 

About these ads

One thought on “Berburu Lumba lumba di Teluk Kiluan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s